Apakah Kritikan Membunuh Kreativitas?

823
0

Apakah Kritikan Membunuh Kreativitas?

Tulisan asli oleh Tomi Saputra (@udatommo)
All photos in this article copyrighted by Tomi Saputra
Hak Cipta MaklumFoto

Di suatu pagi beberapa hari yang lalu saya tersentak pada salah postingan teman di facebook yang berjudul Kritikan Membunuh Kreativitas, bukan tulisan asli sendiri memang, tapi adalah hasil kutipan dari orang bule yang saya sendiri sudah tidak hafal namanya, dan yang menariknya ada juga ternyata yang berkomentar dengan nama sama pada judul tulisan itu. Berbunyi seperti ini, “Kritik = proses = tidak suka”.

Tentunya saya tergerak untuk ikut berkomentar dan dengan pandangan berbeda, tidak berselang lama postingan itu dihapus.

Akhirnya pada artikel ini saya meminta ijin untuk mengutip status facebook om Homer Harianja, dan meminta pandangan sekaligus,

Homer Harianja. (2017) berpendapat, “absennya tradisi kritik foto di Indonesia menciptakan manusia narsis yang megalomaniak. Mereka terlalu delusional untuk dapat membedakan mana yang ada hominem dan mana yang ngomongin karya dan ide”.

Tomi Saputra, Bogor 2017.
Baca juga:

Beberapa bulan yang lalu saya mengadakan sebuah program kritik foto pada salah satu komunitas berbasis Instagram, program ini tidak bertahan lama, akhirnya dibekukan karena ada member yang mengeluh karena merasa kurang terima ketika karya dia mendapat komentar yang tidak menyenangkan.

Suatu kasus yang sama juga saya temui pada kegiatan yang dinamakan upload bersama pada komunitas berbasis Instagram, yang ada hanyalah puji-pujian pada kolom komentar, anda tentunya sudah tidak jarang membaca komentar seperti ini, “joss, mantap, keren, dan apalah itu”, sungguh membosankan memang, sangat jarang sekali komentar yang memberikan masukan dan kritikan, tentunya hal ini bisa membesarkan hati, jika hal ini dibiarkan lebih lama, maka tidak ada koreksinya yang didapatkan oleh si pemilik foto, ya kembali lagi kepada tujuan si pemilik foto, apakah mereka hanya mengejar puji-pujian ini atau kah mereka merasa dengan mendapatkan pujian yang banyak, maka akan otomatis dinobatkan menjadi ‘mastah’?

Pada perkembangan internet saat ini tentunya kesempatan untuk pamer karya terbuka sangat lebar, media sosial tidak bisa dipungkiri berperan penting, tolak ukur eksistensi adalah jumlah like dan follower dari akun si pemilik foto, dan apakah ketika ada yang memberikan kritikan kepada si pemilik foto yang notabene sudah menjadi mastah ini menjadi terusik kemastahannya karena adanya kritikan dari orang yang follower dan like nya lebih sedikit?

Saya tidak bisa menjawab pasti, tetapi bukankah ketika suatu karya dilempar ke publik itu sudah sepenuhnya menjadi konsumsi publik? Mau dipuji atau dihujat bukankah itu menjadi hak publik? Terlepas dari komentar yang dilontarkan paham atau tidak paham atas karya tersebut?.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

“Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.”

Pada prakteknya bukankah kritikan adalah komentar berdasarkan landasan keilmuan, untuk mempertanyakan suatu karya lengkap dengan tetek bengeknya dan suatu bentuk koreksi dari suatu karya tersebut?

 

Tomi Saputra, Bogor 2017.

Teringat pada Desember 2016, masih dalam bagian acara Jambore Street Photography Indonesia, saya dan Baskara Puraga Sumantri mewakili Fotoemperan untuk presentasi mengenai project photozine yang kala itu sedang kami rilis sebagai personal project, hadir ketika itu Rony Zakaria, Edy Purnomo, Ng Swan Ti , Sari Asih, Tommy Armansyah, kang Ista dan beberapa rekan-rekan komunitas lainnya.

Banyak kritikan yang kami terima ketika itu, suatu hal mendebarkan presentasi dan dikritik oleh para fotografer senior dan ternama, namun ketika berakhirnya presentasi tersebut, ada kelegaan tersendiri menjadi pengalaman berharga, kami memandang ini sebagai masukan yang sangat berarti, dan membuka mata akan segala kekurangan dalam berkarya, serta semakin semangat lebih positif dalam berkarya.

Suatu pengalaman berharga bisa mendapatkan kritikan langsung dari nama-nama besar dan syarat pengalaman terkhusus di dunia fotografi.

Konklusi:

Jika kritik dianggap sebagai rasa tidak aman dan batasan, bukankah kreativitas itu muncul dari setiap keterbatasan? hanya bagaimana cara menyikapi kritikan, maka membunuh atau tidak itu hanyalah keputusan yang dibuat oleh si penerima kritik, pribadi yang tangguh tentunya tidak akan langsung jatuh dari banyaknya kritikan yang datang silih berganti.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.