Bagaimana Perkembangan Street Photography Indonesia Saat Ini?

365
4

Perkembangan Street Photography Indonesia Saat Ini (Sampai Pada Akhir Tahun 2017 )

Artikel ini adalah hasil dari sentilan pada suatu perbincangan yang diutarakan oleh om Roe kepada saya, perbincangan yang awalnya berkaitan dengan pengumuman The Miami Street Photography Festival 2017.

Jika anda memang mengunjungi halaman tersebut maka tidak akan ditemukan satupun nama finalis yang berasal dari Indonesia. Terlontar lah pertanyaan dari om Roe. “mana nama dari IOS (Indonesia On The Street)? Mana dari MAKLUM FOTO? Ini tamparan yang cukup keras. Terima kasih om Roe!

Hal ini menurut saya bukan lah suatu permasalahan sederhana, jika meninjau dari semakin meningkatnya kuantitas pegiat Street Photography di Indonesia. Ketika artikel ini saya rapikan untuk dijadwal terbitkan, total 236.848 foto yang menggunakan tagar #maklumfoto. Suatu jumlah yang cukup banyak semenjak @maklumfoto mulai dikenalkan pada publik mulai Februari 2016.

Kali ini saya tidak sendiri dalam membahas topik ‘Perkembangan Street Photography Indonesia’, Mencoba mengundang beberapa nara sumber untuk memberikan pandangan masing-masing. Mari saya perkenalkan.

  • Andi Sudjana. Jambore Street Photography Indonesia 2016 (JSPI) terbilang cukup sukses, hal ini tidak bisa tercapai jika tanpa andil besar seorang kang Andi sebagai ketua pelaksana event tersebut.
  • Yustin Geilardi Zakharias. Biasa disapa dengan panggilan akrab ‘bang Onit’. Salah satu orang yang yang melahirkan dan membesarkan Indonesia On the Street.
  • ROE. Salah satu Leica ambassador untuk Indonesia. Seperti penjelasan di awal, om Roe inilah yang membuat saya akhirnya menyusun artikel ini.
  • Homer Harianja. Punya pemikiran kritis dan selalu berani dalam mengutarakan pendapat khususnya melalui media sosial,  dengan dibekali wawasan fotografi  yang sangat luas.
  • Aizad Fadzli. Salah satu member Fotografi Jalanan Malaysia (FJM) yang cukup aktif.

Silahkan disimak opini yang telah dikumpulkan sebagai berikut:

Andi Sudjana

Dalam hal kuantitas / penggiat SP di Indonesia sudah pasti berkembang, sudah banyak sekali bahasan mengenai SP di jagad internet, siapapun sudah bisa melakukan SP bila disertai dengan do’a, niat dan kemauan yang kuat. Industri pun merespon dengan semakin banyaknya komunitas, kompetisi, loka karya mengkapitalisasi SP, jadi menurut saya perbedaan dengan 5 tahun yang lalu di arena SP Indonesia adalah saat ini ‘Pasar Sudah Diciptakan’

Tetapi pertanyaan yang sebenarnya harus dijawab oleh para penggiat SP di Indonesia menurut saya masih sama seperti 3 tahun yang lalu saat Kurniadi Widodo (Wid) menulis ”Melampaui Visual: Tantangan untuk Dijawab Street Photography Indonesia” apabila ada yang belum membacanya silahkan dibaca karena menurut saya tulisan Wid menjadi penting karena setidaknya seharusnya sudah dapat menjadi trigger bagi para penggiat SP di Indonesia untuk mempertanyakan kembali apa itu SP untuk dirinya sendiri.

Yustin Geilardi Zakharias

Ada beberapa film yang mungkin bisa dianalogikan kedalam kondisi Street Photography di Indonesia, semisal Space between Us. Film ini berkisah mengenai perjalanan pertama lima belas manusia ke Mars.

Mimpinya adalah tentang usaha manusia untuk mencari tempat tinggal baru disana, berkoloni, mempelajari apasaja mengenai kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjadi pendukung kehidupan manusia kelak. Tanpa sangka, salah satu manusia dari lima belas manusia yang dikirim ke Mars itu hamil dan pada saat melahirkan si Ibu meninggal yang disebabkan adanya komplikasi.

Terlahir lemah karena kondisi tertentu, tanpa bimbingan sang ibu dan pengalaman apapun kemudian mencoba berbagai cara untuk dapat beradaptasi dengan bumi. Hanya berbekal pengalaman dari empat belas manusia lainnya selama sekian belas tahun si anak hanya meniru dan menyerap kebiasaan-kebiasaan yang ada, tanpa tahu bagaimana kelak nantinya dia menerapkannya.

Setelah ada waktu mengunjungi bumi, dia harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda samasekali, semisal orang-orang yang tidak peduli, belum lagi soal adaptasi dengan gravitasi bumi yang beda dan lainnya.

Alhasil, si anak memutuskan hidup kembali di Mars. Kurang lebih begini analogi saya untuk Street Photografi yang berkembang di Indonesia.

Gegap gempita Street Photography di Indonesia mungkin sudah lewat, pada masanya semua orang turun kejalan memotret dan meniru apasaja yang ada didepan mata kemudian diunggah secepatnya ke media sosial.

Komunitas-komunitas yang berbasis di media sosial gagal menjalankan fungsinya sebagai sarana belajar dan berkembang anggotanya. Ada yang terlupakan dari para pengurus komunitas-komunitas tersebut yaitu tahapan belajar yang harusnya dijalankan, bukan hanya hanya soal komposisi bentuk ruang cahaya tapi lebih berupa wacana diskusi, berwacana itu perlu untuk perkembangan ide si fotografer sendiri.

Bagaimana cara komunitas mendorong anggotanya untuk mencapai fase mencipta karyanya sendiri. Hal ini yang tidak pernah terjadi.

Street Photography (bagi saya) itu adalah ruang ekslusif personal untuk berkarya (ruang yang penuh kebebasan tanpa batas) yang seharusnya terjadi disana adalah visualisasi ide kita dalam merespon lingkungan sekitar, apa yang kita rasakan dan cerna dan kemudian kita paparkan kepada khalayak. Bukan hanya ajang berlomba meniru idola.

ROE

Street photo di Indonesia seperti juga genre lainnya sedang dalam stage pencarian bentuk. Stage yang pasti dan harus dilalui sebagai bagian dari sebuah proses.
Pembahasan mengenai fotografi Indonesia tentunya akan membahas person-person yang terlibat di indonesia.

Ketika memaknai fotografi sebagai work of art, dibutuhkan lebih dari sekedar beauty untuk menghasilkan sebuah hasil karya yang baik.

Setidaknya berlaku pada saya, proses ini menjadi PR saya saat ini. Berusaha untuk lepas dari “jebakan visual” dan berusaha menggali lebih dalam makna di dalam nya.

Proses pemaknaan ini hanya bisa tercapai ketika fotografer mempunyai dimensi yang cukup lebar dan hal ini bisa didapat dari banyak hal di luar fotografi.

© Chris Tuarissa/ Arsip Maklum Foto

Homer Harianja

Hari ini yang terjadi adalah adanya kuasa institusi yang mengerdilkan Street Photography. Institusi ini yang kemudian menentukan apa itu SP dan seperti apa Street Photography yang berhasil. Nah ini yang tidak pernah disadari orang bahwa selera itu bisa diarahkan dan ditentukan. Hegemoni namanya. Institusi ini dikuasai oleh orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan Street Photography tetapi memiliki kapital.

Street Photography hari ini sudah terkontaminasi oleh virus macam itu. Komunitas bukan saja tidak menarik tapi penuh kepurapuraan. Sekarang saya hanya berharap pada pemegang kamera yang awam, barangkali dari sana akan muncul karya yang jujur, spontan dan segar.

Aizad Fadzli

Street Photography di Indonesia menunjukkan perkembangan positif dan ketara dalam satu dekat. Ini terbukti dengan peningkatan penggiat aktif Street Photography Indonesia yang melibatkan diri di dalam kancah Street Photography global. Malahan mendapat penghargaan dan liputan di peringkat global terhadap penghasilan hasil-hasil karya Street Photography yang berkualiti.

Ledakan dan pertumbuhan ekonomi sejak krisis ekonomi tahun 1999 menjadikan ekonomi Indonesia terbesar di Asia Tenggara, menjadikannya salah satu negara ekonomi utama G-20 yang kompetitif di dunia dan diklasifikasikan sebagai negara yang baru perindustrian. Ini terbukti apabila Indonesia telah menggantikan negara India sebagai ekonomi G-20 yang paling pesat berkembang di sebalik China sekaligus mempengaruhi perkembangan teknologi yang memainkan peranan penting di dalam perkembangan Street Photography Indonesia.

Salah satu faktor yang memainkan peranan signifikan di dalam perkembangan Street Photography Indonesia adalah peranan penyampaian teknologi maklumat yaitu media sosial. Kewujudan platform media sosial seperti Facebook, Instagram dan yang lain-lain ini  memudahkan perkongsian dan mempercepatkan proses perkongsian di antara penggiat Street Photography.

Berdasarkan laporan Antara News, media sosial Instagram pada ketika ini sedang berkembang pesat dan dapat dibuktikan pada jumlah pengguna di Indonesia yang kini memiliki 45 juta pengguna aktif setiap bulan pada suku pertama tahun 2017. Instagram dan juga platform media sosial yang lain telah menyediakan ciri praktikal yang menyokong proses komunikasi dan memudahkan penggiat Street Photography untuk berinteraksi, berkolaborasi, perkongsian dan berkomunikasi secara langsung di antara satu sama lain.

Penggiat Street Photography yang mempunyai karakteristik minat dan kebersamaan ini telah membentuk komuniti-komuniti Street Photography seperti Indonesia-on-the Street (IOS), Maklumfoto, Komunittas Fotografi Indonesia InstaStreetid, Serikat Fotografi Indonesia @sfi_streetphotography, indosp_jabar, sidoarjo_onthestreet, indosp_jatim, indostreetproject, indostreetlife, atjehstreetproject dan lain-lain  yang berpusat di bandar-bandar sekitar Indonesia.

Arsip Maklum Foto

Jika kita lihat, komuniti Street Photography aktif melakukan aktiviti  foto pilihan mingguan/harian, photowalk (Street Photography hunting), bengkel fotografi, seminar, pameran photobook, zine, pertandingan (lomba foto) dan kolaborasi.

Adalah penting untuk menjadi sebahagian daripada komuniti kerana di dalam Street Photography, selain bergantungan pada informasi sumber maya, penggiat Street Photography memerlukan bantuan pengalaman, sokongan berterusan dan penglibatan di dalam aktiviti yang diwujudkan oleh komuniti untuk memperbaiki dan meningkatkan kemahiran bagi keberhasilan foto yang berkualiti dan lebih baik.

Tidak kurang juga penggiat Street Photography yang mempunyai pengalaman dan mempunyai nama di pentas “Street Photography” global. Kolaborasi dan penyatuan di antara komuniti-komuniti Street Photography Indonesia tidak dapat dinafikan apabila komuniti ini saling mempromosikan Indonesia Street Photography Jambore (JSPI) dan Street Photography Festival Indonesia (SPFest).

Satu persoalan yang perlu difikirkan oleh komuniti dan penggiat Street Photography Indonesia secara am adalah bagaimana membawa nama, keunikkan identiti dan halatuju Street Photography Indonesia ke tahap yang lebih tinggi?

Jika dilihat  kebelakangan ini, Street Photo Thailand (SPT) adalah di antara peneraju utama di dalam Street Photography scene global. Street Photo Thailand yang menfokuskan kepada gagasan idea pemikiran kreatif secara kolektif, humor, gaya visual yang lebih segar serta berindentiti telah membawa satu pembaharuan terhadap pembawaan gaya visual Street Photography global. Boleh dikatakan, Street Photography Thailand telah berjaya mempromosikan Thai Street Photography di peringkat lokal dan global.

Apa yang boleh dilakukan adalah pertama, komuniti perlu membina resolusi jangka panjang terhadap perancangan masa hadapan dan bukannya hanya memberikan reaksi terdangkal.

“Blue Print‟  penting  dalam mengatasi  sesuatu  masalah  dan  bukannya mengatasi sesuatu berasaskan  tindakan jangka  pendek. Oleh  karena itu,  pendekatan  yang komprehensif  dan  holistik  terhadap  penglibatan bersama dengan komuniti luar negara dapat meningkatkan dan mengembangkan pengaruh Street Photography Indonesia ke arah global  dan bukannya hanya berkisar sekitar lokal. Kedua, perlunya  pengubahsuaian  kepada  pendekatan  atau  perancangan  berbentuk tradisi kepada  kesesuaian  berasaskan  keperluan  semasa,  mengikut  perubahan atau  kehendak penggiat dan komuniti Street Photography global.

Secara keseluruhannya, Street Photography Indonesia telah berkembang dengan pesat dengan kewujudan komuniti-komuniti dan bilangan penggiat Street Photography yang semakin ramai. Untuk mengembangkan Street Photography Indonesia  ke arah global, kepimpinan penggiat dan komuniti perlu segera mengambil tindakan proaktif memartabatkan genre ini serta melaksanakan pelbagai transformasi dan mengambil langkah sewajarnya.

Kuala Lumpur, November 2017

Rujukan

1. http://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.KD.ZG?end=2016&locations=ID&start=2006

2.What is the G-20 Archived 4 May 2011 at the Wayback Machine., g20.org

3. “Acicis – Dspp”. Acicis.murdoch.edu.au

4. http://invisiblephotographer.asia/2014/06/11/spjamboreeindonesia/

5.http://www.academia.edu/3831838/PERKEMBANGAN_FOTOGRAFI_DI_ERA_MODERN_Meluasnya_Seni_Fotografi_di_Indonesia_

6.https://www.kompasiana.com/nflspeed2/pesatnya-perkembangan-fotografi-di-indonesia_552b3219f17e61117dd623da

7. https://www.antaranews.com/berita/642774/pengguna-instagram-di-indonesia-capai-45-juta

8. http://ketiknews.com/2015/09/17/hobi-fotografi-tidak-perlu-kameramahal-dengan-instagram

9. https://prezi.com/m/di5-m0b2ivm7/sosialmedia/

10. Maklumfoto.wordpress.com

11. SPfest www. Instagram.com

 Jika anda punya opini berbeda silahkan tuliskan dikolom komentar, menawarkan solusi untuk kebaikan bersama akan lebih baik. Terima kasih!

Facebook Comments

4 COMMENTS

  1. Inilah yang membuat saya “absen” sejenak dari street photography. Sepintas SP kelihatannya simpel ya, tinggal keluar rumah modal bawa HP rasanya cukup.

    Ternyata SP susah juga. Tentunya SP gak sesederhana memoto orang bersliweran, musisi jalanan, atau juxtaposisi yg lucu2 ala Martin Parr kan? Hehe…

  2. Saya sepakat dengan ROE, Street Photography di Indonesia masih mencari bentuk.
    Menurut saya, basically culture photography kita masih belum seberagam negara-negara seperti US. Dan sepertinya kita butuh lebih banyak expose untuk street photography. CMIIW.

Leave a Reply