DIREMEHKAN, Tulisan: Kurniadi Ilham

390
0

DIREMEHKAN

Tulisan kiriman: Kurniadi Ilham

Street Photography makin berkembang di Indonesia. Bisa dilihat dari jumlah peminat nya yang semakin banyak, anggota komunitas-komunitas semakin bertambah, bahan ajar semakin banyak, medium edukasi semakin beragam, bahkan kontes-kontes dengan pendekatan Street Photography juga menambah ramai nya khalayak. Itu sisi positif nya, sisi negatif nya?

Pengembangan Street Photography, itu wajib. Tapi kerancuan? Tidak bisa dihindari juga. Ditambah dengan teman-teman yang baru terjun di dunia Street Photography, mendapatkan pengalaman yang beragam, termasuk pengalaman yang kurang mengenakkan.

Beberapa saat yang lalu aku bertemu dengan beberapa orang pemuda yang ingin belajar Street Photography. Sayang sekali, program The Mentor yang ku rancang bersama SPF Indonesia jeda untuk sementara dan dilanjutkan di awal tahun 2018. Teman-teman ini belajar di salah satu forum, tapi mereka merasa ada gap antara ‘senior’ dan ‘junior’ disana, merasa diremehkan.

Aku berbincang-bincang dengan mereka, dan berkata “Mungkin pendekatan dan komunikasi kalian kurang pas, makanya jadi begitu”.
Kemudian aku duduk dihadapan mereka dan berkata

“Wahai anak muda, padeee jaman dahuluuu”

Salah, bukan itu. Aku bercerita tentang awal perjalanan ku di dunia fotografi. Berangkat dari latar belakang seorang blogger dan audio producer. Aku memulai fotografi secara kebetulan. Tahun 2014, aku merancang sebuah ide pameran di ruang publik. Setahun setelah itu aku mengutarakan ide tersebut setelah bertemu beberapa teman yang hobi fotografi. Mereka antusias dengan ide tersebut dan akhir nya aku ikut serta dalam komunitas, komunitas Street Photography pertama di Padang.

Awalnya aku cukup minder, mereka punya kamera serius, sedangkan aku cuma handphone jadul dengan kamera 2MP. Tak apa, yang penting belajar dulu. Aku belajar dari teman-teman di komunitas, tapi emang dasar otak seorang penulis yang ingin tahu banyak hal, aku mulai browsing. Aku belajar dari grup-grup facebook luar negeri, dari website-website fotografi, dari Youtube, dan personal blog.

Aku mendapatkan bahan yang cukup banyak, kemudian ku aplikasikan langsung. Aku memulai program “memotret setiap sore” dengan metode solo-hunt. Sengaja, karena Street Photography menuntut fotografer untuk menguasai banyak soft-skills. Kalau aku ikut hunting bareng, pasti nya soft-skills ini tidak terlalu terasah, karena masih merasa nyaman. Zona nyaman, yang tidak aman.

Ketika Diremehkan Menjadi Penyemangat Berkarya

Teman-teman fotografer, banyak yang mendukung, tapi banyak juga yang meremehkan. Minder sih, tapi aku masih punya senjata lain selain gear, yaitu kata-kata. Aku bisa ikut nimbrung di setiap diskusi karena aku punya banyak bahan. Dari sana, ada beberapa teman yang awal nya meremehkan, kemudian berubah jadi mendukung. Aku ingat sekali ada seorang fotografer Landscape yang sudah ternama di Padang yang berkata kepada temannya,

“Si Adi, cuma pakai Hape, bisa dapetin foto begini”.

Tentu saja hal ini bagaikan obat pemacu adrenalin bagi ku. Aku terus menghasilkan foto dengan handphone jelek itu hingga akhir nya… aku menjualnya. Kemudian aku membeli handphone baru plus kamera compact second dengan harga 350 ribu rupiah, hingga akhir nya kamera itu juga lah yang mengantarkan ku menjadi nominasi World Street Photography Award 2016.

Kurniadi Ilham

 

Teman-teman bisa melihat kamera itu di dalam foto nya, ya karena aku masuk di kategori refleksi.

Senang sekali rasanya, karena di tahun 2015, aku sampai diundang untuk menjadi pembicara fotografi di beberapa kampus dan forum. Setahun berikutnya, diundang oleh Uda Tomi & Om Chris Tuarissa menjadi kurator dan penulis di Maklum Foto, terima kasih atas kesempatannya.

It’s not (only) about your camera, it’s about you (yourself).

Jadi itulah cerita ku tentang “DIREMEHKAN”, sampai saat ini masih banyak sih yang meremehkan. Tapi dari sana, kamu bisa belajar, bisa semakin kuat, bisa semakin matang, semakin berkarakter. Jika kamu tidak kuat menghadapi nya, tolong berikan kamera mu ke aku, haha.

Tulisan ini bagaikan pisau bermata dua, tapi aku berharap kamu bisa membaca inti dari tulisan ini dan menjadi obat pemacu adrenalin juga buat mu.
Terus belajar, terus berusaha dan terus lah memotret.
Terima kasih, Harap Maklum.

Kurniadi Ilham (@choukyin)
Former MF Admin

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.