Fotografi: Talenta atau Kamera Canggih

692
4

Fotografi: Talenta atau Kamera Canggih

Tulisan Asli oleh Hendrianto
Dipublish oleh diazgaleri
Disadur dan direpost oleh Maklum Foto

Mengapa judul tersebut aku jadikan artikelku? Aku barusan membaca sebuah artikel di Jawa Pos berisi fotografer yang masih mempertahankan kemera klasiknya untuk bersaing dengan kamera digital canggih.

Setelah membaca artikel tersebut aku sadar juga sih, kamera bukanlah penentu bagus tidaknya foto kita , namun hanyalah sekadar melengkapi skill yang kita miliki dalam fotografi. Fotografer tersebut adalah Louis Mendez, seorang fotografer jalanan di kota New York yang harus bersaing dengan fotografer jalanan yang menggunakan kamera digital.

Di era serba digital ini kamera Mendez tak ubahnya sebuah mesin ketik elektronik di tengah belantara komputer. Keunikan tersebutlah membawa dirinya menjadi fotografer terkenal disana dengan tarif tinggi.

tumblr_mw6ucshwst1rix5m4o5_1280
Source: danielgoodman.com

berikut kutipan pembicaraannya :

Anda tak butuh banyak peralatan untuk memotret. Cukup lihat subjek Anda dan potret. Anda tak perlu mengambil foto ribuan kali untuk bisa mendapatkan hasil yang bagus. Cukup satu kali potret. Satu kali.

Dengan peralatan canggih justru akan merepotkan kita nantinya, konsentrasi menjadi pecah karena banyaknya tombol yang harus disesuaikan sehingga tidak fokus lagi terhadap objek tersebut. Banyak orang menganggap dengan memakai peralatan dan kamera canggih hasilnya akan lebih baik.

Tapi sayangnya dengan peralatan dan kamera canggih belum tentu hasilnya menjadi lebih baik. Peralatan tersebut tidak mampu untuk membantu kita dalam hal komposisi sebuah foto dan juga tidak mampu kita menentukan exposure tepat sesuai dengan kondisi di lapangan.

Kutipan dari fotografer dan penulis Ken Rockwell

Your kamera must be so simple that you don’t have to think about it as you shoot. You should only be thinking about your subject and snapping the photo at the peak of the action

dsc_0367
Kurniadi Ilham. Padang. Indonesia – SPF Indonesia

Cara terbaik untuk menghindari ketergantungan kita terhadap peralatan adalah jepret foto dengan dengan satu kamera dan satu lensa. Kamera bukanlah perpanjangan dari imajinasimu, tapi hanyalah perpanjangan dari tubuhmu. Jika kamu berpikir terhadap kameramu, kamu tidak akan berpikir tentang fotomu.

Jika kamu menggunakan kamera sederhana akan membantumu untuk lebih fokus terhadap hasil foto daripada peralatan yang kamu gunakan.

Harus diakui bahwa alat mahal memang sangat membantu, tapi yang penting adalah menyadari bahwa membuat karya seni indah tidak selalu perlu alat yang mahal. Bila memang peralatan yang kita miliki memang belum mendukung, kita harus menggantinya dengan usaha keras dan waktu panjang. Sebagai penutup David DuChemin, seorang fotografer travel terkenal mengatakan ” Gear is good, vision is better

4 COMMENTS

  1. entah kenapa selalu setuju dengan postingan seperti ini. Jujur saja hasil foto yang selalu saya post diblog saya lagilagibali merupakan foto-foto yang dihasilkan dari kamera hp yang bisa dibilang terbilang murah. Bukan kamera jutaan rupiah dengan lensa puluhan juta. Yah namanya juga belajar menjadi seorang seniman abal-abal yang ditantang untuk lebih kreatif. Terimakasih postnya.

    • Terkadang diperbudak alat malah menumpulkan hati untuk berkarya lebih baik. Mindset terkonsep bahwa hasil karya yang baik adalah karena alat yang mahal. Memang alat bisa mempermudah dalam menciptakan karya lebih baik

  2. Gue banget kalimat yang ini, “…Bila memang peralatan yang kita miliki memang belum mendukung, kita harus menggantinya dengan usaha keras dan waktu panjang.— ” Gear is good, vision is better” (David DuChemin)”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.