Melampaui Visual: Tantangan untuk Dijawab Street Photography Indonesia

785
1

Tantangan untuk Dijawab Street Photography Indonesia

Tulisan asli oleh Kurniadi Widodo (@kurniadiwidodo)
Dipublish kembali oleh MaklumFoto
Photo Credit Tim MaklumFoto

Sekitar dua sampai tiga tahun belakangan ini terasa sedang ada geliat yang cukup signifikan dalam praktik street photography di tanah air.

Ini bisa terlihat antara lain dari bermunculannya berbagai komunitas penggiatnya di kota-kota di Indonesia (beserta keberadaan dan keaktifan grup-grup serupa di media sosial), semakin rutinnya pelaksanaan pameran, lokakarya, dan seminar tentang street photography, hingga mulai diadakannya kategori street photography pada kompetisi-kompetisi fotografi yang menawarkan hadiah-hadiah yang menggiurkan.

Sudah cukup umum pula kita temukan orang-orang yang bisa menyebut nama-nama street photographer ternama sebagai referensi dan sumber inspirasi mereka, mulai dari yang klasik seperti Garry Winogrand, Lee Friedlander, atau William Klein, sampai yang lebih kontemporer seperti Trent Parke ataupun Matt Stuart.

Semua fenomena ini mengindikasikan satu hal: jumlah peminat aktivitas memotret di ruang publik ini memang tengah meningkat.

Mungkin akan diperlukan penelitian lebih jauh untuk mengetahui dengan pasti kenapa animo kalangan fotografi Indonesia terhadap genre ini menanjak cukup pesat dalam rentang waktu yang relatif singkat.

Meskipun begitu, kita bisa mencoba menelaah beberapa titik simpul yang bisa kita anggap sebagai katalis dari merebaknya praktik street photography di Indonesia.

Chris Tuarissa/MaklumFoto

Pertama, peran teknologi informasi terutama internet rasanya harus disebutkan sebagai salah satu faktor krusial. Internet berperan besar terutama dalam dua hal: sebagai sumber informasi dan sarana pembentuk massa. Sebagai sumber informasi, bisa dibilang internet adalah rujukan utama bagi fotografer Indonesia yang ingin mempelajari street photography.

Bahkan, tidak jarang justru melalui internetlah kebanyakan dari kita untuk pertama kalinya mengetahui genre tersebut.

Tidak seperti di Amerika, Eropa, atau Jepang, sejarah fotografi Indonesia memang sepertinya tidak pernah memiliki tradisi street photography di dalamnya. Kalaupun ada, ia tidak pernah tercatat. Kita tidak pernah tahu apakah ada fotografer Indonesia di masa lalu yang memanfaatkan pendekatan memotret tanpa terencana di ruang publik untuk membuat sebuah body of work yang signifikan.

Jangankan genre fotografi yang spesifik, kronologis perkembangan fotografi negeri ini secara umum saja masih sulit ditelusuri, dengan banyak wilayah yang samar dan titik-titik yang belum terisi.

Dengan situasi seperti ini, tidak mengherankan apabila peminat street photography di Indonesia sampai beberapa tahun lalu masih sangat sedikit.

Ade Andryani/MaklumFoto

Di titik itulah internet kembali berperan, kali ini sebagai pembentuk massa: melaluinya, orang-orang yang sebelumnya berburu pengetahuan sendiri-sendiri akhirnya bisa ‘bertemu’ dan saling bertukar informasi.

Dengan cara ini, perlahan namun pasti sebentuk pengetahuan kolektif tentang apa itu street photography mulai terbangun. Komunikasi pun tidak hanya terjalin secara internal lewat obrolan-obrolan dan diskusi online di antara sejumlah kecil pelaku-pelakunya, tetapi juga secara eksternal ke publik fotografi yang lebih luas melalui foto-foto yang mereka hasilkan dan unggah lewat berbagai kanal.

Foto-foto street photography di masa itu mungkin masih dianggap janggal karena estetikanya yang tidak lazim dikenal oleh mayoritas praktisi fotografi lainnya.

Akan tetapi karena konsistensi penggiatnya, perlahan-lahan fotografer-fotografer lain pun menjadi tertarik untuk mencobanya. Proses inilah yang sepertinya berhasil memperbesar ruang lingkup street photography di Indonesia secara eksponensial hingga sampai seperti sekarang.

Faktor lain yang juga bisa dipertimbangkan adalah publikasi dua buku foto Indonesia yang memiliki banyak konten yang dibuat dengan pendekatan street photography: Jakarta Estetika Banal oleh Erik Prasetya (terbit tahun 2011), dan Passing oleh Edy Purnomo (terbit tahun 2012).

Mungkin memang tidak bisa dibuktikan apakah terbitnya dua judul ini memiliki korelasi langsung dengan fenomena ini, tapi menarik untuk melihat bagaimana waktu penerbitan keduanya bertepatan dengan mulai meningkatnya minat akan street photography di kalangan fotografer lokal.

Selain itu ada beberapa hal menarik lain yang perlu disinggung tentang kedua buku ini; Pada saat dimana buku-buku foto masih dilihat sebagai barang eksklusif karena harganya yang relatif tinggi, kedua buku foto tadi hadir dengan harga jual yang jauh di bawah standar harga buku foto pada umumnya.

Lebih terjangkaunya harga buku Estetika Banal dan Passing bisa berarti ada lebih banyak orang pula yang mampu mengakses dan terinspirasi oleh kontennya.

Lebih jauh lagi, Erik Prasetya dan Edy Purnomo adalah dua orang fotografer yang sudah dikenal sangat berpengalaman di bidangnya.

Bahwa mereka mengusung pendekatan street photography dalam buku masing-masing, bisa dilihat sebagai afirmasi untuk para pengikutnya bahwa pendekatan ini adalah metode yang valid dalam menghasilkan karya.

Preseden yang sebelumnya tidak ada dalam sejarah fotografi Indonesia, kini telah muncul dan bisa dijadikan tempat berpijak untuk mengembangkan street photography lebih jauh. Secara kebetulan pula, di tahun 2012 nama Erik Prasetya tercantum dalam daftar 20 orang fotografer berpengaruh di Asia berdasarkan hasil sebuah poling informal yang dilakukan oleh Invisible Ph t grapher Asia, salah satu situs fotografi terkemuka di wilayah Asia yang memiliki banyak pembaca.

Bila dikaitkan dengan peran internet seperti yang dikemukakan sebelumnya, ini seperti memberi penegasan dan pengakuan dari publik yang lebih luas bahwa street photography Indonesia eksis dan pantas diperhitungkan, dan bukan tidak mungkin generasi muda yang melakukannya dengan baik di masa kini pada gilirannya nanti juga akan mendapat perhatian serupa di masa mendatang.

Tomi Saputra/MaklumFoto

Berikutnya, yang juga tidak bisa dikesampingkan adalah perkembangan teknologi kamera itu sendiri. Bila kita melongok ke belakang, diciptakannya sistem kamera 35mm di awal abad ke-20 oleh Oskar Barnack sudah terbukti sangat berpengaruh terhadap pencapaian era keemasan fotojurnalistik modern dan juga street photography.

Sistem kamera 35mm yang ringkas dan praktis telah memungkinkan para fotografer untuk secara bebas menangkap momen-momen kecil yang singkat dengan spontan dan lebih subtil, yang sulit dilakukan dengan sistem lawas seperti view camera yang berat dan lebih rumit dioperasikan.

Kecanggihan teknologi mutakhir selalu mampu membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam eksplorasi visual seorang fotografer sesuai dengan yang ia inginkan. Jika prinsip ini kita pegang, tidaklah sulit untuk melihat paralel peristiwa tersebut dalam masa sekarang ini.

Mari kita lihat tren kamera belakangan ini, dimana kecanggihan kamera digital berukuran kecil namun dengan performa tinggi seperti kamera mirrorless sudah mulai membuat kamera DSLR terlihat seperti dinosaurus; besar dan ketinggalan zaman.

Isu-isu teknis yang dulu membuat kamera saku kurang dipandang seperti adanya shutter lag, kualitas gambar yang buruk di pencahayaan minim, dan resolusi gambar yang kecil, sekarang sudah mulai teratasi.

Bahkan kamera-kamera yang ada di smartphone juga saat ini sudah dianggap cukup memadai karena kebutuhan cetak foto juga telah semakin merosot.

Sekali lagi: kecil, ringkas, bisa selalu dibawa ke mana saja, namun dengan kualitas gambar prima; bukankah mereka adalah karakteristik yang dicari oleh semua street photographer? Kamera yang mengizinkan mereka memotret tanpa menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.

Fakta inilah yang nampaknya juga telah disadari oleh para produsen & pemasar kamera dan gadget lain. Dengan kemampuan kapitalnya, dengan lihai mereka mengemas berbagai produk terbaru itu sebagai alat yang mumpuni untuk memotret secara diam-diam di tempat umum.

Kuantitas praktisi yang masih sedikit bukanlah masalah, karena pasar bisa diciptakan. Ini bisa dilihat dari beberapa acara seperti kompetisi dan lokakarya street photography (atau yang berkaitan dengannya) yang disponsori oleh produsen kamera dan gadget, yang sepertinya tidak pernah sepi peminat.

Walaupun untuk kepentingan yang berbeda, para produsen ini ternyata juga turut andil dalam menyebarluaskan praktik street photography di Indonesia.

Semua faktor di atas mungkin bisa diatribusikan sebagai penyebab-penyebab meningkat pesatnya jumlah peminat street photography di negeri ini, tapi setelah itu seharusnya perlu muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya: apakah peningkatan kuantitas itu juga diikuti oleh peningkatan kualitas dari praktisi-praktisinya? Sedalam apa sesungguhnya pemahaman mereka akan jenis pendekatan fotografi yang mereka tekuni itu? Dan sampai manakah mereka bisa memanfaatkan pemahaman itu untuk menghasilkan sebuah body of work yang berkelas?

Di tangan fotografer yang memahami betul pendekatan ini beserta segala karakteristiknya, street photography bisa menjadi sebuah alat yang sangat berguna untuk menyampaikan visi, opini, dan perasaan mereka terhadap dunia yang mereka lihat dan alami.

Mereka inilah yang pada akhirnya lalu diakui sebagai master, karena karya-karyanya mampu merefleksikan ruang dan waktu dimana karya tersebut lahir.

Seperti misalnya pada akhir dekade 1960-an di Tokyo, fotografer Daido Moriyama melihat bagaimana kondisi Jepang paska Perang Dunia II dan pendudukan Amerika telah mendorong timbulnya modernisasi Barat yang konsumtif, pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun juga dibarengi ketidakstabilan politik dan tergerusnya nilai-nilai tradisional.

Sebagai respon terhadap semua yang ia rasakan itu, ia menolak gaya fotografi yang populer pada saat itu—fotojurnalistik yang humanis dan obyektif— karena menurutnya itu tidak mencerminkan kondisi bangsa Jepang.

Sebagai gantinya, ia dan beberapa kolega fotografer lain di masa itu mengedepankan gaya estetika visual yang akhirnya dikenal dengan istilah are-bure-boke (kasar-kabur-tidak fokus), kontras super tinggi dan sudut pengambilan yang kerap seperti oleng, yang dianggap lebih mewakili kekacauan terselubung yang menghantui masa itu.

Atau bisa kita lihat contoh dari fotografer Inggris Tony Ray-Jones, yang sempat belajar di Amerika dan ketika di sana mendapat pengaruh dari street photographer Garry Winogrand dan Joel Meyerowitz. Ketika kembali ke Inggris, ia mendapati bahwa energi dari lalu lalang orang-orang yang ia potret di kota besar seperti New York tidak ada di negara asalnya dan oleh sebab itu ia perlu menyesuaikan pendekatan memotret yang ia dapatkan di AS dengan konteks lokasinya sekarang.

Ray-Jones pun memilih subyek-subyek yang menurutnya mewakili keunikan dan mentalitas orang-orang Inggris: ia mendokumentasikan mereka ketika sedang bersantai di kota-kota tepian pantai, di festival-festival lokal, atau di kontes kecantikan. Strategi yang dilakukan Ray-Jones ini pada akhirnya banyak menginspirasi fotografi dokumenter Inggris di era-era setelahnya, termasuk di antaranya Martin Parr yang sekarang juga sangat berpengaruh dan malah jauh lebih dikenal daripada Ray-Jones.

Lalu bagaimana dengan street photography yang tengah berkembang di Indonesia? Apakah ia juga sudah bisa menjadi cerminan masyarakat yang dipotretnya? Rasanya di sisi inilah kita harus mengakui bahwa masih ada tantangan besar yang perlu disadari dan ditanggapi. Bila diamati, kebanyakan fotografer yang aktif memotret di ruang publik di kota-kota Indonesia masih baru berkutat di persoalan menghasilkan foto-foto tunggal dengan kekuatan visual tertentu, ketimbang berupaya mencari subyek ataupun isu yang bisa diangkat melalui pendekatan street photography.

Ade Andryani/MaklumFoto

Sudah banyak fotografer Indonesia yang mampu menghasilkan foto dengan komposisi berlapis-lapis ala Alex Webb, jeli dalam membuat jukstaposisi dari elemen-elemen urban layaknya Nick Turpin dan Matt Stuart, atau memanfaatkan terobosan-terobosan sinar untuk bermain-main dengan cahaya dan bayangan seperti Trent Parke.

Tapi strategi-strategi visual tersebut hampir selalu diaplikasikan tanpa adanya pertimbangan keterkaitan terhadap konteks lokasinya.

Akibatnya, foto-foto yang dibuat di Jakarta, di Malang, di Padang, atau kota-kota lain manapun di Indonesia seringkali terlihat memiliki gaya dan atmosfer yang serupa, walaupun karakteristik semua kota tersebut tidaklah mungkin sama.

Jika pun ingin dikatakan bahwa visual-visual tersebut adalah representasi masyarakat Indonesia secara umum di masa kini, maka pernyataan seperti apa sebenarnya yang ingin disampaikan di sana?

Gaya visual yang homogen dari street photography Indonesia mungkin diakibatkan oleh metode transfer pengetahuan yang dialami oleh sebagian besar praktisinya, seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Ketika kita mempelajari pendekatan fotografi ini hanya berdasarkan referensi foto-foto yang dihasilkan oleh fotografer-fotografer luar negeri, terlebih bila pembelajaran ini dilakukan secara parsial, sesungguhnya terdapat sebuah resiko dimana kita hanya terpaku di aspek permukaan saja dari street photography, dan melupakan aspek substansialnya.

Kita terlalu sibuk memusingkan apakah foto-foto yang kita buat termasuk dalam sebuah kerangka definisi tertentu dari sebuah istilah bernama street photography, tapi justru tidak mengindahkan bagaimana dan kenapa kita bisa memilih untuk menggunakan pendekatan itu untuk mencapai tujuan-tujuan yang dituntun oleh visi pribadi kita.

Dalam kondisi seperti ini, maka sayangnya bisa dikatakan bahwa mayoritas street photography Indonesia barulah sebuah peniruan visual semata dari bentuk-bentuk eksternal yang telah ada di luar negeri, dan belum menjadi sebuah hasil pemikiran yang bersumber dari refleksi internal diri terhadap apa yang ada di sekitar kita.

Padahal, seperti yang pasti sudah sering dilakukan oleh para praktisinya ketika tengah memotret, bukankah esensi utama dari street photography adalah sikap keterbukaan terhadap apa yang ditawarkan oleh kehidupan sehari-hari dan kesigapan untuk bereaksi terhadapnya?

Maka sudah semestinya esensi ini selalu dicamkan oleh mereka yang berniat mendalami dan memanfaatkan street photography dalam berkarya: bahwa bukan hanya sebatas eksplorasi estetika visual semata, tetapi sesungguhnya sisi kehidupan seperti apakah yang ingin kita respon lewat foto-foto kita? Jika tidak dimulai, niscaya street photography Indonesia akan segera menemui kebuntuan dan tidak berlanjut ke mana-mana.

Yogyakarta, Juni 2014


Tulisan ini dibuat untuk menyertai perhelatan Jambore Street Photography Indonesia (JSPI) di Jakarta, pada 2014. Dimuat kembali di sini atas seizin penulis.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.