Membaca Sebuah Foto

633
0

Kita menghabiskan banyak waktu untuk berpikir tentang bagaimana cara membuat atau mengambil sebuah foto, tapi mungkin saja tidak begitu cermat saat memahami sebuah foto. Selain bagi orang-orang yang mendalami fotografi secara profesional, biasanya kita hanya melihat sebuah foto sebagai gambaran dari apa yang dilihat fotografer (tidak mempunyai arti lain sebagai rekaman visual yang mengingatkan kita terhadap hal yang pernah dilihat atau dialami).

Akan tetapi, banyak juga foto yang menyimpan cerita lain dibaliknya, cerita yang tidak kalah dari bentuk tertulis, membangkitkan berbagai perasaan atau emosi tertentu yang melampaui sebatas komposisi. Foto tersebut tidak hanya mengundang orang yang melihat untuk terlibat dalam menafsirkan cerita namun juga mendorong seseorang untuk menggali suatu pandangan dan informasi. Komposisi, warna dan subjek foto mempengaruhi bagaimana kita melihat, memahami gambar dan membaca pesannya.

Pada kenyataanya, tindakan mengambil foto itu sendiri adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan merupakan hasil rekaman secara visual yang dipilih dan dibuat oleh seorang fotografer dengan tujuan tertentu. Pada tingkat yang paling kompleks, sebuah gambar dapat memancing permasalahan dan makna yang ambigu antara pembaca dan gambar tersebut. Oleh karena itu, kita perlu memahami sebuah foto untuk menghindari kesalahan dalam mengartikan sebuah foto.

Dengan memiliki kemampuan tersebut kita dapat mengontruksi makna dalam sebuah foto dan berpikir secara kritis agar kita tidak terkecoh oleh manipulasi, pencitraan, propaganda dan hoax.

“The relation between what we see and what we know is never settled.”
– John Berger

Fotografi sebagai Bingkai

Sebenarnya tidak ada cara pasti untuk memahami sebuah foto. Semuanya tergantung dari sudut pandang, latar belakang dan tujuan bagaimana sebuah foto ingin digunakan, tetapi menurut teori semiotik (studi tentang tanda dan simbol) ada 2 cara dimana kita bisa membaca foto, yaitu dengan makna denotatif dan konotatif.

Makna denotatif adalah tanda deskriptif sebagai hasil dari peleburan penanda (signifier) dan petanda (signified). Makna merupakan pemahaman literal suatu objek dalam sebuah adegan. Misalnya, kucing hitam hanyalah contoh hewan berkaki empat yang kebetulan memiliki warna hitam. Detail literal ini membentuk dasar dari pemahaman kita tentang apa gambar itu. Dari titik awal ini, kita mulai menyelidiki makna konotatif (makna kedua) dari foto tersebut.

Perbedaan antara denotasi dan konotasi ditentukan oleh pemahaman dan keyakinan masyarakat terhadap simbol, warna, ekspresi, dan tanda tertentu. Dalam hal ini, konotasi kucing hitam di masyarakat mengisyaratkan ketidakberuntungan, atau membangkitkan kesan ‘licik’ atau identik dengan hal yang berbau sihir. Hal utama yang perlu diingat disini adalah bahwa gagasan konotatif ini dapat berbeda dari satu budaya dengan budaya lainnya.

Menurut Roland Barthes, yang paling terkenal karena tulisannya Camera Lucida, ada dua faktor yang mempengaruhi bagaimana kita melihat aspek-aspek foto ini.

Studium
Studium adalah daya tarik awal dari keseluruhan gambar, atau cara gambar secara keseluruhan menarik minat kita. Foto surat kabar adalah contoh yang baik tentang hal ini, kita menyukainya, tetapi mungkin tidak membacanya untuk mencari makna yang lebih dalam, dan pada umumnya tidak memberi minat lebih kecuali jika mereka menampilkan karakteristik kedua, yaitu punctum.

Punctum
Punctum dideskripsikan sebagai elemen kecil yang muncul dari keseluruhan gambar dan menyebabkan kita terlibat secara emosional dan mempertanyakan masalah subjek lebih dalam. Elemen-elemen kecil ini menginformasikan pembacaan foto di semua aspek.

Diane Arbus image of A Family on their Lawn One Sunday in Westchester, New York (1969)

Gambar tersebut menampilkan halaman yang mengambil sebagian besar dari frame, menunjukkan rasa kekosongan dan isolasi dalam ruang fotografi. Pohon-pohon yang membatasi frame membuat suasana sedikit gelap dan berbayang. Ketika kita membaca foto, kita membentuk konotasi ruang fisik yang sedikit tidak nyaman, yang menuntun kita untuk juga membentuk asosiasi ini dengan sosok (figur) dan sisi emosional dari adegan itu.

Coba perhatikan elemen punctum yang menambah gagasan ini. Setiap detail kecil dari figur subjek, seperti fakta bahwa tangan mereka terulur tetapi tidak tersentuh satu sama lain menambahkan rasa terisolasi yang kita baca dari gambar. Objek permainan diletakkan di belakang frame, kursi santai yang menghadap kamera dengan terstruktur formal, tetapi bahasa tubuh subjek tidak menggambarkan kesan relaks. Semua elemen kecil ini jika digabungkan akan menuntun kita untuk mengembangkan persepsi tentang seluruh budaya dalam satu gambar. Hal tersebut merupakan contoh dari lapisan makna di dalam foto.

Berikut tips untuk membaca sebuah foto:

1.Apa yang ada dalam foto tersebut?

Mulailah dengan melihat apa saja yang ada di dalam foto. Subjek, tempat, benda, aktifitas atau simbol apa yang ada di dalam foto. Perhatikan kembali apakah ada hubungan antara subjek dengan objek yang saling berkaitan satu sama lain.

2. Bagaimana foto tersebut disusun?

Fotografi secara tidak langsung memaksa kita untuk bekerja dengan framing, fotografer membuat keputusan secara sadar maupun bawah sadar untuk menyoroti atau menghilangkan subjek dan objek di dalam frame dan mengubah komposisi saat memotret. Cahaya dan bayangan juga berpengaruh besar dalam penyusunan sebuah foto. Perhatikan bentuk dan juga hubungan antara cahaya dan bayangan terhadap framing.

Josef Koudelka / Magnum Photos: PORTUGAL. 1976.

3. Konteks apa yang ada di dalam foto?

Konteks dalam hal ini tentu harus melibatkan pemikiran yang luas tentang kondisi yang saling berhubungan tentang bagaimana foto tersebut diambil, yaitu meliputi budaya, waktu, kepercayaan masyarakat setempat yang dapat memperdalam pemahaman foto tersebut.

Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah siapa yang mengambil foto, bagaimana seorang fotografer dibentuk dari pengalaman hidup yang mencerminkan sudut pandang, tidak hanya secara fisik tetapi juga estetis, polemik, politis maupun ideologis.

4. Cerita apa yang ingin disampaikan?

Pada akhirnya kita akan belajar untuk mengartikan sebuah foto. Tentu tidak semua foto mengandung isi cerita yang rumit dan tidak semua proses dapat diartikan secara lengkap dan utuh. Terlepas dari tingkat analisis yang dimaksud untuk membaca foto, semua hal diatas akan mengembangkan kemampuan kita dalam membaca visual dan menambah pengalaman yang lebih kaya saat mengambil dan melihat sebuah foto.

Memahami foto memang tidak pernah mudah, karena foto merupakan hasil dari pilihan yang diambil fotografer dalam situasi tertentu. Tidak semua foto (termasuk beberapa yang paling terkenal) diambil dengan pemikiran yang jelas. Sejauh mana foto mengungkapkan maknanya, menjelaskan metode, pesan dan keputusan fotografer, semuanya bervariasi. Dengan begitu kami berharap dapat memicu banyaknya ruang-ruang diskusi yang lebih mendalam untuk meningkatkan kemampuan literasi visual khususnya dalam fotografi.

Sumber:

How to Read a Photograph

How Do We ‘Read’ a Photograph

Buku Visual Literasi – Taufan Wijaya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.