Street Photography Interview Series: #23 Tavepong Pratoomwong (@tavepong_street)

308
0

Street Photography Interview Series: Tavepong Pratoomwong

Silahkan perkenalkan diri Anda, dan beritahu kami bagaimana awal mula Anda tertarik terhadap fotografi? 

Saya tertarik dengan seni fotografi sejak mempelajarinya bertahun-tahun lalu saat di universitas. Saya memiliki masa di mana minat saya berubah menjadi maniak terhadap perlengkapan kamera, dan saya kehilangan fokus pada seni nya.

Saya hampir berhenti memotret pada akhir tahun 2013 saat istri saya mengejutkan saya dengan hadiah ulang tahun: tiket ke Varanasi, India. Perjalanan itu adalah titik baliknya, membuat saya serius untuk memotret lagi. Ketika kembali ke Thailand, saya bergabung dengan Street Foto Thailand “365 days in 2014”. Dengan project tersebut, saya merasa tertantang untuk pergi keluar dan mengambil foto setiap hari nya.

Bagaimana Anda menggambarkan tentang Street Photography?

Salah satu fotografer yang saya kagumi saat menggambarkannya dan menurut saya kedengarannya mudah dimengerti, katanya:
1. Memotret di ruang public
2. Unposed
3. Memiliki kreativitas dan interpretasi

Tavepong Pratoomwong

Mengapa anda lebih memilih untuk menekuni Street Photography? Apakah ada alasannya?

Yang pertama adalah tentang relaksasi. Bagi saya itu seperti pergi keluar untuk jalan-jalan. Kemudian seperti yang Elliott Erwitt katakan “Fotografi adalah seni observasi. Ini tentang menemukan sesuatu yang menarik di tempat biasa…. Saya telah menemukan hal kecil yang bisa dilakukan terhadap apa yang Anda lihat dan segala hal yang berkaitan dengan cara Anda melihatnya. ”

Apakah Anda punya tips untuk lebih meningkatkan kualitas foto yang dihasilkan?
1.Keluarlah untuk memotret sesering mungkin. Tidak ada jalan pintas, satu-satunya cara agar dapat berkembang adalah berlatih.
2.Cobalah melihat karya street photographer lainnya. Cari tahu bagaimana dia menciptakan karya nya, namun Anda tidak boleh menyalin atau mereproduksinya.
3.Jangan merasa bahwa ini mudah. “You must be ready to kill your baby” (kiasan –red). Jika itu tidak cukup baik.

Siapa fotografer yang menginspirasi Anda?

Saya menghargai Henri Cartier-Bresson karena sense of composition, Elliott Erwitt karena sense humornya, Alex Webb dan David Alan Harvey karena sense of layer and colour dan Richard Kalvar karena sense of mystery.

Berdasarkan pengamatan kami, karya Anda seperti integrasi antara surealisme dan juxtaposition, apakah itu pengaruh dari fotografer yang Anda kagumi?

Iya! Saya menggunakan empat cara yang berbeda dan mencampurkannya. Komposisi + humor + layer dan warna + sense of mystery.

Menurut Anda, karya Street Photography yang bagus itu seperti apa

Street photography yang bagus bagi setiap orang berbeda-beda. Bagi saya, itu kombinasi antara cerita yang bagus, komposisi, inovatif dan dapat menyentuh hati audiences.

Tavepong Pratoomwong

Bagaimana perkembangan Street Photography di Thailand?

Itu terjadi saat bergabungnya orang-orang yang memulai street photography, hampir 10 tahun yang lalu. Itulah kelompoknya, Street Photo Thailand itu sendiri. Sebelumnya, jenis fotografi ini belum terpisahkan dengan jelas. Seringkali, hal ini masuk ke fotografi dokumenter atau lifestyle photography, namun ketika Street Photo Thailand didirikan, banyak member utama yang belajar. Termasuk memberikan edukasi pada masyarakat umum agar lebih memahaminya.

Jenis acara apa yang diadakan di Thailand saat ingin mempromosikan Street Photography?

Kami Street Photo Thailand menyelenggarakan workshop secara berkala. Setiap dua tahun, kami akan mengadakan pameran dari para member kami. Kini, jenis fotografi ini cukup populer. Saya yakin akan ada lebih banyak aktivitas lagi tentunya.

Apa pendapat Anda tentang Street Photography di Asia Tenggara? Mengacu pada apa yang kita lihat, Anda juga aktif dalam kelompok / forum Street Photography negara lain

Di Asia Tenggara, kita memiliki bayak kesamaan. Budaya yang sama, cara berpakaian, hidup, saya pikir orang-orang di sini lebih ramah dibandingkan di Eropa. Kita tidak memiliki banyak masalah tentang privasi. Tapi yang saya pikirkan adalah dampak utama pada street photography, yaitu cuacanya. Ini mempengaruhi gaya hidup masyarakat di Asia Tenggara. Dalam cahaya terang bagi fotografer khususnya di Thailand, orang takut akan sinar matahari.

Jadi sulit untuk mendapatkan hasil yang bagus dengan kondisi pencahayaan yang baik karena tidak ada orang di luar sana di bawah sinar matahari. Tapi dengan keterbatasan ini, kami mencari yang lain. Ini memaksa kita mencari cerita atau beberapa humor dari kreatifitas lain.

Selama beberapa tahun terakhir, Street Photography berkembang pesat di Indonesia. Apa pendapat Anda tentang perkembangan Street Photography di Indonesia?

Saya pikir tidak hanya Indonesia tapi jelas ini berkembang di Asia. Saya pikir itu karena kita telah menemukan pendekatan baru untuk fotografi. Berbeda dengan foto-foto lama 10 tahun yang lalu. Seperti Potrait, Landscape, kita menikmati pergi keluar untuk berjalan. Dan mencari hal-hal yang menarik di sekitar.

Ini adalah potret yang diambil setiap hari di sekitar rumah kita. Tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk mengambil foto, menurut saya Street Photography di Indonesia sepertinya tidak akan berbeda dengan Thailand. Kita seperti remaja muda yang cerdas dan siap untuk mempelajari hal-hal baru yang masuk.

Apakah Anda memiliki kata-kata dan saran untuk memperbaiki Street Photography di Indonesia?

Saya pikir belajar dari banyak sumber itu penting. Entah dari galeri foto dari fotografer legendaris seperti Magnum Photos atau dari Street Photo Group di Flickr, saya merekomendasikan agar Anda melihatnya.

Temukan jalan yang Anda suka untuk ke arah sana. Tapi penting bagi Anda untuk tidak menyalin atau mereproduksi foto-foto tersebut. Pada hari-hari awal latihan memotret, saya percaya itu akan menghasilkan banyak gambar yang hampir sama dan berulang. Untuk berlatih (kebanyakan dari mereka adalah lelucon atau klise). Tapi seiring berjalannya waktu, Anda harus menemukan jalan Anda sendiri.

Ciptakan bau Anda sendiri, tidak ada gunanya untuk mereproduksi karya orang lain. Kami telah berada di planet ini selama beberapa tahun. Akan lebih baik jika kita menghasilkan karya seni asli kita sendiri. Bukannya memproduksi karya yang berulang hanya untuk bersosialisasi sesekali.

Tavepong Pratoomwong

 

Tavepong Pratoomwong

 

Tavepong Pratoomwong
Tavepong Pratoomwong

Biodata singkat

Saya tertarik dengan seni fotografi sejak mempelajarinya bertahun-tahun lalu di universitas. Saya memiliki masa di mana minat saya berubah menjadi mania untuk perlengkapan kamera, dan saya kehilangan fokus pada bidang ini. Saya hampir berhenti syuting pada akhir tahun 2013 saat istri saya mengejutkan saya dengan hadiah ulang tahun: tiket ke Varanasi, India. Perjalanan itu adalah titik balik, membuatku serius untuk memotret lagi.

Ketika saya kembali ke Thailand, saya bergabung dengan proyek “365 days in 2014” Street Street Thailand. Dengan proyek itu, saya ditantang untuk pergi keluar dan mengambil foto setiap hari sejak saat itu.

“Good day, Bad day, But Every day.”

Awards

2017 : 1st Place Winner Independent-Photo (Street Photography)
2016 : 1st Place Winner LACP Street Shooting Around the World
2014 : 1st Place Winner Miami Street Photography Festival
2014 : The Winners of EyeEm Awards (Street Photographer)
2014 : Honourable Mentions of Urban Picnic Street Photography

Facebook
Flickr
iN-PUBlic
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Tavepong Pratoomwong

Facebook Comments

Leave a Reply